Pengertian Pendidikan Sekolah

  • Whatsapp
pendidikan sekolah

Pengertian Pendidikan Sekolah

Pendidikan sekolah terdiri dari dua kata istilah yang masing-masing mempunyai arti tersendiri yaitu istilah “pendidikan” yang berarti proses pemupukan pengetahuan, ketrampilan dan sikap untuk mewujudkan segenap potensi yang ada dalam diri seseorang, dan istilah “sekolah” yang berarti sekolah adalah lembaga dengan organisasi yang tersusun rapi dan segala aktifitasnya direncanakan dengan sengaja yang disebut kurikulum.

Dari kedua istilah tersebut dapat ditarik pengertian tentang apa itu pendidikan sekolah, pendidikan sekolah adalah “pendidikan yang secara sengaja dirancang dan dilaksanakan dengan aturan-aturan yang ketat, seperti harus berjenjang dan berkesinambungan sehingga disebut pendidikan formal”.

Baca Juga

Jenjang Lembaga Pendidikan sekolah (formal) meliputi :

Pendidikan Tinggi

Pendidikan Menengah meliputi:

  1. SMTA meliputi :
    – Kejuruan
    – Umum
  2. SMTP meliputi :
    – Kejuruan
    – umum
  3. Pendidikan dasar meliputi :
    SD
    TK
  4. Jenis Lembaga Pendidikan Sekolah (formal)
    Umum meliputi :
    SMTA
    SMTP
    SD
    TK
  5. Kejuruan meliputi
  • Tehnik industri : STM
  • Kejuruan : SMEA
  • Kerumah tanggaan : SMKK, SPK, SAA, SMPS
  • Jasa : SPK
  • Petanian : SMTP[4]

Fungsi Pendidikan Sekolah

Para ahli pendidikan banyak yang berpendapat mengenai fungsi pendidikan sekolah antara lain :
Menurut Bogar Daus, fungsi pendidikan sekolah ada 2 yaitu :

  1. Memberantas kebodohan
  2. Memberantas salah pengertian
Yang keduanya dapat dirumuskan sebagai berikut:
  1. Menolong anak untuk menjadi melek huruf dan mengembangkan kemampuan-kemampuan intelektualnya.
  2. Mengembangkan pengertian yang luas tentang manusia lain yang berbeda kebudayaan dan interestnya.
    Gillin & Gillin berpendapat bahwa pendidikan sekolah adalah penyesuaian diri anak dengan stabilitas masyarakat.

David Popenoe mengemukakan pendapat yang lebih terperinci mengenai fungsi pendidikan sekolah, menurut beliau ada 4 macam fungsi yaitu :

1) Transmisi kebudayaan mayarakat
2) Menolong individu memilih dan melakukan peranan sosialnya
3) Menjamin integritas sosial
4) Sebagai sumber inovasi sosial
Menurut Bachtiar Rifai terdapat lima fungsi pendidikan sekolah yaitu :
1) Perkembangan pribadi dan pembentukan kepribadian
2) Transmisikultural
3) Integrasi sosial
4) Inovasi
5) Pra seleksi dan pra alokasi tenaga kerja.[5]
5. Kompenen Pendidikan Sekolah

Komponen yang diperlukan harus disesuaikan dengan keadaan anak atau peserta didik agar memperoleh hasil yang memuaskan, antara lain :

  1. Tujuan

Tujuan adalah pedoman sekaligus sebagai sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Kepastian dari perjalanan proses belajar mengajar berpangkal tolak dari jelas tidak nya perumusan tujuan pengajaran. Tercapainya tujuan sama halnya keberhasilan pengajaran.[6] Sedikit banyak perumusan tujuan akan mempengaruhi kegiatan pengajaran yang dilakukan guru, dan secara tidak langsung guru akan mempengaruhi kegiatan belajar siswa (peserta didik).

2.Guru

Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu kepada anak didik disekolah. Guru sangat berperan dalam menentukan cara yang dianggap efektif untuk pembelajaran siswa, ketidak pedulian guru terhadap pembelajaran siswa akan membawa kemerosotan bagi perkembagan siswa.

Guru yang sering memberikan latihan-latihan dalam rangka pemahaman materi akan menghasilkan siswa yang lebih baik, dengan kata lain prestasi belajar sangat ditentukan oleh cara mengajar guru yang akan menciptakan kebiasaan belajar pada siswa.

Dalam konsep Islam, seorang guru haruslah bukan hanya sekedar tenaga pengajar, tetapi sekaligus adalah pendidik. Karena itu, dalam Islam, seorang dapat menjadi guru bukan hanya karena ia telah memenuhi kualifikasi keilmuan dan akademis saja, tetapi lebih penting lagi ia harus terpuji akhlaknya. Dengan demikian, seorang guru bukan hanya mengajarkan ilmu-ilmu pengetahuan saja, tetapi lebih penting pula membentuk watak dan pribadi anak didiknya dengan akhlak dan ajaran-ajaran Islam.

Syed Hossein Nasr dan kawan-kawan dalam “Konprensi Pendidikan Islam Pertama” di Makkah tahun 1977 antara lain menyimpulkan : sebagai seorang figur sentral dalam pendidikan, guru haruslah dapat diteladani akhlaknya disamping kemampuan keilmuan dan akademisnya. Selain itu, guru haruslah mempunyai tanggung jawab dan keagamaan untuk membentuk anak didiknya menjadi orang yang berilmu dan berakhlak.

3. Anak didik

Anak didik adalah orang yang sengaja datang kesekolah. Orang tuanyalah yang memasukkannya untuk didik agar menjadi orang yang berilmu pengetahuan di kemudian hari.[12] Anak didik datang dari berbagai bentuk latar sosial, budaya, ekonomi, bakat, dan kemampuan masing-masing yang berbeda antara satu sama lain.

4. Kegiatan Pengajaran

Pola umum kegiatan pengajaran adalah terjadinya interaksi antara guru dengan anak didik dengan bahan-bahan sebagai perantara.[13] Gaya mengajar guru lebih dominan mempengaruhi gaya belajar anak didik. Strategi penggunaan metode mengajar sangat menentukan kualitas hasil belajar, sehingga dalam mengajar seorang guru jarang sekali menggunakan satu metode.

5. Kurikulum

Pengertian kurikulum yang disebut terakhir ini sejalan pula dengan pendapat Hasan Langgulung. Menurutnya, kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olah raga, dan kesenian, baik yang berada di dalam maupun di luar kelas yang dikelola oleh sekolah.

6. Faktor lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar anak baik berupa benda-benda atau peristiwa-peristiwa yang terjadi, maupun kondisi masyarakat terutama yang dapat memberi pengaruh kuat kepada anak, yaitu lingkungan dimana proses pendidikan berlangsung dan lingkungan dimana anak-anak bergaul sehar-harinya.

Lingkungan mempunyai peranan yang sangat penting terhadap berhasil atau tidaknya pendidikan, karena perkembangan jiwa anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia hidup. Lingkungan dapat memberikan pengaruh positif maupun negatif terhadap perkembangan jiwa anak, dalam sikapnya, akhlaknya maupun perasaan agamanya dalam perkembangan berikutnya.

Mochtar Buchori, Ilmu Pendidikan dan Praktek Pendidikan, IKIP Muhammadiyah, Jakarta Pres, jakarta, 1994, hlm. 54 [2] Abu Ahmadi, Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, Rineka cipta, Jakarta, 1991, hlm 162 [3] Umar Tirta Raharja dan La Sula, Pengantar Pendidikan, Rineka Cipta, jakarta, 1998, hlm. 164 4 Abu Ahmadi, Nur Uhbiyati, Op. Cit., hlm. 163 [5 St. Vembriarto, Sosiologi Pendidikan, PT. Grafindo, Jakarta, 1993, hlm. 74-756] Saiful Bahri Djamarah dan Azwar Zain, Strategi Belajar Mengajar, Rineka Cipta, Jakarta, 1997, hlm. 124 [7]Ibid, hlm. 126 [8] Ibid, hlm. 126 [9]Sri Harjo dan Bajuri, Pengaruh Motivasi Berprestasi dan Cara Belajar terhadap Prestasi Belajar Sekolah Dasar di Kabupaten Semarang, Jurnal Pendidkan Vol. 1.2, UPBJJUT Semarang, .th, hlm. 2 [10] Azyumardi Azra, Esei-esei Intelektual Muslim & Pendidikan Islam, PT. Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1998, hlm. 167 [11] Ibid,hlm.167 [12] Sriharjo dan Bajuri, Op. Cit., hlm. 3 [13]Syaiful Bahri Djamarah, Op. Cit., hlm. 129 [14] Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam, Pustaka al-Husna, Jakarta 1987, hlm. 483-484 [15] A.Muri Yusuf, Pengantar Pendidikan, Balai Aksara, Bandung, 1982, hlm. 61

Pos terkait