Benarkah Alien Bersembunyi di Planet yang Jauh dari Pikiran Kita?

  • Whatsapp

Di mana kehidupan alien di alam semesta? Kemungkinan tidak di planet dengan gas beracun. Menurut sebuah studi baru, hal itu secara dramatis mengurangi jumlah dunia di mana para ilmuwan akan memiliki peluang lebih besar menemukan ET (julukan alien dalam film fiksi ET Extra-Terrestrial).

Laman Livescience, Senin, 10 Juni 2019, menyebutkam bahwa, di masa lalu, para peneliti mendefinisikan zona layak huni berdasarkan jarak antara planet dan bintangnya, seperti Bumi yang mengorbit pada jarak tertentu untuk mengakomodasi suhu di mana air cair bisa ada di permukaan planet sehingga layak huni.

Definisi ini bisa diterapkan pada mikroba dasar, tapi tidak bisa untuk  makhluk kompleks, seperti hewan hingga manusia. Menurut peneliti, ketika parameter yang diperlukan untuk kehidupan makhluk kompleks, zona layak huni ini menyusut secara substansial.

Muat Lebih

Baca juga: Riset Ilmiah, Semakin Cerdas Seseorang Makin Sedikit Temannya

Sebagai contoh, planet-planet dengan gas beracun tingkat tinggi, seperti karbon dioksida dan karbon monoksida, akan keluar dari daftar utama.

“Ini adalah pertama kalinya batas fisiologis kehidupan di Bumi dianggap untuk memprediksi distribusi kehidupan kompleks di tempat lain di alam semesta,” ujar Timothy Lyons, profesor biogeokimia terkemuka dan direktur Pusat Astrobiologi Bumi Alternatif di Universitas California, Riverside (UCR).

Untuk menyelidikinya, Lyons dan rekan-rekannya menciptakan model komputer dari iklim atmosfer dan fotokimia (bidang yang menganalisis bagaimana bahan kimia yang berbeda berperilaku di bawah cahaya tampak atau ultraviolet) pada berbagai planet.

Para peneliti mulai dengan melihat tingkat karbon dioksida yang diprediksi, gas yang mematikan pada tingkat tinggi, tapi juga diperlukan untuk menjaga suhu di atas titik beku (berkat efek rumah kaca) di planet-planet yang mengorbit jauh dari bintang inangnya.

“Untuk mempertahankan air di tepi luar zona layak huni konvensional, sebuah planet akan membutuhkan karbon dioksida puluhan ribu kali lebih banyak dari pada yang dimiliki Bumi saat ini,” demikiam disampaikan ketua peneliti Edward Schwieterman dari NASA yang bekerja sama dengan Lyons.”Itu jauh melampaui level yang diketahui beracun bagi kehidupan manusia dan hewan di Bumi.”

Setelah toksisitas karbon dioksida diperhitungkan, zona layak huni tradisional untuk kehidupan hewan sederhana diiris menjadi dua. Untuk kehidupan kompleks seperti manusia, yang lebih sensitif terhadap kadar karbon dioksida yang tinggi, menurut penelitian zona aman itu menyusut hingga kurang dari sepertiga area tradisional.

Di bawah parameter baru, beberapa bintang tidak memiliki zona aman untuk hidup, termasuk Proxima Centauri dan TRAPPIST-1, dua tetangga terdekat Matahari. Karena planet-planet di sekitar Matahari ini kemungkinan memiliki konsentrasi karbon monoksida yang tinggi.

Karbon monoksida dapat berikatan dengan hemoglobin dalam darah hewan, dan bahkan jumlah kecil itu bisa mematikan. Sebaliknya, penelitian lain baru-baru ini berpendapat bahwa karbon monoksida mungkin merupakan tanda kehidupan di luar Bumi.

Namun, seperti yang dikatakan Schwieterman, planet-planet itu tentu bukan tempat yang baik untuk kehidupan manusia atau hewan seperti yang dikenal di Bumi. Pedoman baru ini dapat membantu peneliti memangkas jumlah planet di mana tanda-tanda kehidupan alien terlihat menjanjikan, mengingat ada hampir 4.000 planet di luar sana yang mengorbit.

Baca juga: Kecepatan Internet Indonesia Masih Kalem Dibandingkan Negara Lain

“Penemuan kami menyediakan satu cara untuk memutuskan mana dari sekian banyak planet yang harus kita amati lebih detail,” kata peneliti Christopher Reinhard, yang juga asisten profesor bidang ilmu bumi dan atmosfer di Institut Teknologi Georgia.

Menurut Reinhard, mereka dapat mengidentifikasi planet-planet yang tidak layak huni dengan kadar karbon dioksida atau karbon monoksida yang cenderung terlalu tinggi untuk mendukung kehidupan yang kompleks. Studi tersebut dipublikasikan online pada 10 Juni 2019, di Astrophysical Journal.

Loading...

Pos terkait